a seven nation army couldn’t hold them back

2 februari 2011 yang lalu, merupakan salah satu hari terpedih dalam hidup saya. salah satu pahlawan dan panutan terbesar saya dalam bermusik, The White Stripes, secara resmi membubarkan diri. fakta yang tak bisa ditolak ini seketika menghancurkan impian saya untuk menonton konser mereka secara langsung, padahal mereka merupakan salah satu pemuncak dalam list “bands to see before i die” milik saya.

seperti halnya sebagian besar pemuda-pemudi dari generasi saya lainnya, sayapun pertama kali mengenal The White Stripes dari track fenomenal “seven nation army”,  3 menit riff gitar renyah yang repetitif, raungan vokal kering dan melengking  Jack White yang penuh gairah, diiringi pukulan-pukulan polos Meg White yang dingin membeku. jikalau generasi om dan bapak kita dulu diberkahi oleh riff 2 chord nya pete townshend di “my generation” yang liar menggebu atau riff  ” smoke in the water” nya Ritchie Blackmore yang agung dan perkasa , maka generasi kita punya “seven nation army” . lagu ini serta merta menjadikan Jack White  salah satu penggubah riff gitar terbesar di era 2000an, serta juga membawa dia masuk ke dalam jajaran gitaris-gitaris terpenting dalam sejarah musik rock. tapi white stripes sungguh jauh lebih besar dari “seven nation army” semata.

Jack White adalah pria yang bertanggung jawab atas semua itu, bedebah ini dengan sembrono mengawinkan scale blues purba dengan hentakan rocknroll, membalutnya dalam cita rasa country disana sini, kemudian menyuguhkannya dalam gairah punk yang liar dan gegabah. hasilnya adalah anak haram suci blues rock yang melaju dalam riff-riff padat menderu , dibalut sound gitar   kasar lo fi  dari gitar plastik airlines yang dicumbu distorsi big muff. dan sementara jack white menggila dan berlarian kesana kemari, meg disisi lain, dengan santai duduk dibelakang drum set menjaga ritme dengan pukulan-pukulan simpel sederhana, dingin dan secukupnya. permainan meg yang seakan peduli setan dengan pencapaian teknis ini sering menjadi sasaran komentar orang, tapi justru permainannya yang lugu dan sederhana itu memberikan ruang jelajah luas yang memungkinkan untuk eksplorasi tanpa batas bagi jack white.

formasi duo mereka ini menurut saya adalah kombinasi taoisme yin yang rock n roll yang sempurna, keduanya amat berlawanan tapi justru saling mengisi dan menyeimbangkan. formula ini membawa mereka pada 13 tahun karir dengan 6 album yang brilian. album debut “The White Stripes” yang amat mentah, bertenaga dan liar, lalu  “De Stijl” yang menjadi cult classic, “white blood cell” yang menjadi boom major pertama mereka, serta  “Elephant” yang diganjar 5 bintang klasik oleh rollingstones. kemudian “Get Behind Me Satan” yang seakan melanggar semua yang telah mereka lakukan selama ini, album penuh eksperimentasi dimana mereka menggantikan riff-riff galak dari suara nyaring tajam gitar plastik yang menjadi  andalan mereka selama ini dengan bebunyian ritmis perkusif dari piano, marimba dan entah apa lagi. kemudian pada album terakhir “Icky Thump” Jack White kembali pada gitarnya, masih gegabah, masih liar tapi lebih cerdas dan dewasa dengan komposisi yang lebih berwarna dan beragam, sebuah penutup yang hampir tak bercela.  satu lagi yang luar biasa dari The White Stripes adalah konsep visual mereka yang terelaborasi dengan amat baik, konsep warna merah, putih, hitam yang telah mereka bawakan dari album pertama terus mereka bawa dalam semua elemen mereka, mulai dari nuansa panggung, cover album, merchandise, design web site, video clip dan lainnya.

terlepas dari betapa briliannya 6 album rekaman mereka, bagi saya pribadi, kekuatan sejati dari duo ini adalah pada live mereka, tentu statement tersebut saya keluarkan tanpa pernah sekalipun  menonton live mereka kecuali dari youtube, tragis memang karena aksi panggung mereka telah menjadi salah satu referensi utama saya dalam bermain live.  tapi bahkan menontonnya dari layar monitor saja selalu berhasil membuat saya bergidik merinding. itu mungkin hampir seperti menonton rodeo atau matador, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan pada dasarnya adalah kegilaan hewan buas semata. Jack White akan berdiri didepan mic dengan  ego yang meluap-luap dan gairah yang luber kemana-mana. pijakannya seakan tak terkendali tapi amat berkuasa, penuh spontanitas, membabi buta dan buas tapi juga penuh penghayatan. vokalnya mungkin lebih pantas disebut cempreng daripada merdu, tapi tiap tarikan nafas dan pecutan suaranya yang siap mengoyak bagi saya adalah sebuah bentuk ekspresi sejati yang jujur dan murni. pada live pula lah kita bisa secara jelas melihat bagaimana sempurnanya formasi band ini, Jack si ego raksasa dengan Meg yang seakan tanpa ego.  Jack bisa berlari kemanapun karena Meg akan selalu menjaga ritmenya dibelakang dengan tenang, terarah dan tepat sasaran.  apa yang mereka bisa ciptakan diatas panggung adalah keajaiban, dan mereka melakukannya hanya dengan dua orang, gitar dan drum.

akhir kata, kita semua cuma bisa berdoa agar suatu saat nanti barangkali mereka mau reuni dan bermain kembali, jika hari itu tiba, saya akan rela melakukan apa saja untuk bisa berada disana.

sebagai penutup, berikut ini link ke salah satu penampilan live terbaik mereka.

http://www.youtube.com/watch?v=1fM2qhG8mA4

Advertisements
Comments
2 Responses to “a seven nation army couldn’t hold them back”
  1. Chad Ciputra says:

    FiretrUCK!
    Akhirnya menemukan blog musik Indonesia yang memiliki daya jungkit.

    Okay, Sir.
    About Jack White . . . Pertama kali liat video ‘Icky Thump’. Damn. This is one of something I’ve searching for. Di tengah misorientasi direksi musikal saya (I’m a room guitarist), dari segala aspek Jack White telah memberikan sebuah perspektif baru yang jelas setelah pola pikir saya terkekang dalam lingkup shredder.

    Everything we play is back to us. Dengan mentahnya riff-riff itu, dia mengingatkan saya untuk membawa musik menjadi diri kita sendiri.
    Bukan menjadi impersonator murahan dengan menambahkan ‘Vai’, ‘Petrucci’, atau ‘Malmsteen’ di belakang akun Fesbuk kita.

  2. Chad Ciputra says:

    FiretrUCK!
    Akhirnya menemukan blog musik Indonesia yang memiliki daya jungkit.

    Okay, Sir.
    About Jack White . . . Pertama kali liat video ‘Icky Thump’. Damn. This is one of something I’ve been searching for. Di tengah misorientasi direksi musikal saya (I’m a room guitarist), dari segala aspek Jack White telah memberikan sebuah perspektif baru yang jelas setelah pola pikir saya terkekang dalam lingkup shredder.

    Everything we play is back to us. Dengan mentahnya riff-riff itu, dia mengingatkan saya untuk membawa musik menjadi diri kita sendiri.
    Bukan menjadi impersonator murahan dengan menambahkan ‘Vai’, ‘Petrucci’, atau ‘Malmsteen’ di belakang akun Fesbuk kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: